
Bogor, (MR) – Bogor adalah Kota Hujan yang terkenal hingga ke manca negara, Presiden RI Joko Widodo sangat senang berkunjung ke Bogor dan mengenalkan indahnya Kebun Raya Bogor ke semua tamunya yang datang dari negara mana saja, akan tetapi, (24/08/19).
Dibalik indahnya Kota Hujan ternyata sejak Juli Hingga Agustus sekarang kota ini menjadi kekeringan, air pemberi kehidupan lenyap dan masyarakat kekeringan.
Hal yang sama terjadi pada pemakai PDAM Kota Bogor, baik Kotamadya maupun Kabupaten hampir bisa dipastikan 65% mengalami defisit air.
Seorang Bapak yang bernama Roni yang kami temui di daerah Cilebut kecamatan Bojong Gede Bogor mengatakan sungai pun sudah banyak yang kering, hujan baru terjadi 3x dan sekarang sudah lumayan, dulu untuk mandi bersama kedua anaknya saja harus menunggu beberapa jam karena air sumurnya sangat kecil.
Cerita lainnya kami temui daerah laladon Bogor Barat mengatakan air PAM selalu mati pada pagi menjelang subuh sejak Juli dan baru ada air sekitar jam 10-11 siang lalu dilanjutkan sore harinya jam 3 mati dan baru adalagi saat menjelang Maghrib.ujar bpk Denny.
Ternyata Kota Bogor yang terkenal Kota Hujan saja masih mengalami kekeringan dan sulit air, apalagi daerah lainnya.
Sebenarnya ada beberapa cara untuk mengurangi kekeringan di masyarakat dari yang mudah seperti membuat biopori, lalu saat kemarau tiba memperdalam sumur pribadinya agar mata air makin melimpah saat penghujan tiba.
Tapi beruntunglah akhir Agustus ini sudah terkena 3 kali hujan yang lumayan besar hingga kekeringan lambat laun menghilang. Pantauan wartawan Media Rakyat ujar satpam PDAM menurut pengakuan beliau defisit air hanya berkurang 20-25% saja. (Jefferi)
